MOS Dan Budaya Bully

MOS Dan Budaya Bully – Pernah denger beberapa berita yang mengabarkan soal peserta MOS yang jadi korban dari acara MOS itu sendiri? Ah sepertinya udah bukan hal yang asing lah ya bagi kita. Memang sih, gak semua sekolah menerapkan atau mengadakan acara MOS dengan cara yang negatif, tapi dari beberapa┬ásekolah yang pernah aku liat ternyata masih banyak yang melaksanakan acara ini dengan tidak semestinya.

Maksudnya tidak semestinya itu yang gimana sih? Jadi gini, kepanjangan dari MOS itu apa sih? Masa Orientasi Siswa kan? Bukan Masa Mengerjai Anak Baru. Tapi kenapa yang banyak dilaksanakan sekolah-sekolah justru lebih ke Masa Mengerjai Anak Baru tersebut? Ada yang disuruh bawa tas dari karung goni lah, pake topi dari pot lah sampe hal-hal aneh lainnya. Apa itu yang disebut dengan Masa Orientasi? Duh deeekk..

Seharusnya, bukan seperti itu cara sekolah untuk menyambut calon siswanya, dan itu sangat tidak pantas disebut dengan masa orientasi. Seharusnya siswa baru itu di ajak untuk mengenal sekolahnya, sejarah sekolah, siapa guru-gurunya dan bahkan kalo perlu perkenalan antar siswa baik dengan sesama siswa baru maupun dengan senior. Nah dengan begitu kan siswa jadi mengenal sekolahnya sehingga akan membantu proses adaptasi mereka terhadap sekolah yang baru.

Agar Acara Lebih Menyenangkan?

Ada yang beranggapan bahwa dengan diperintahkannya calon siswa baru itu untuk menggunakan aksesoris yang aneh-aneh bertujuan agar acara tersebut dapat terasa lebih menyenangkan. Menyenangkan bagi siapa? Senior-senior? Guru-guru? Duh, mungkin pada kurang piknik kali ya yang bilang begitu? Inilah cerminan bahwa kita ini gemar membully, senang melihat orang tertindas. Padahal sendirinya gak mau di tindas, kan?

Perlu kalian tau, tindakan seperti itu akan menurunkan mental sang siswa sehingga mereka tidak cukup percaya diri untuk menjadi pemimpin. Ada beberapa memang yang masih memiliki mental pemimpin, tapi sebagian besar hanya mereka yang merasa lebih “kuat” dari lainnya dan biasanya pemimpin macam ini juga suka menindas karena itu tadi, menganggap dirinya lebih kuat. Artinya apa? Secara gak langsung MOS macam ini akan mendidik calon siswa untuk menindas antara satu dengan yang lain dan akan melahirkan generasi pemimpin yang suka menindas pula. Kalo sudah begitu, kapan negara kita mau maju?

Masih ada kok cara lain yang lebih positif namun menyenangkan. Misalnya mengajak siswa untuk mengikuti simulasi gempa, yang pernah aku lihat di salah satu sekolah. Mengajarkan tindakan apa aja yang harus dilakukan ketika bencana itu terjadi sehingga membuat mereka lebih siap dalam menghadapi bencana. Nah gitu kan lebih bermanfaat? Yakan?

Plis, hentikanlah budaya membully ketika MOS. Jangan ajarkan calon pemimpin kita untuk menindas satu sama lain. Karena nanti kalo kamu sendiri yang jadi korbannya, siapa yang harus disalahkan? Semoga tulisan ini bisa dimengerti dan dijadikan bahan renungan.